![]() |
Narasi Indonesia.com, Jakarta - Pulang selalu menjadi kerinduan yang menggebu-gebu pada diri tiap orang terhadap tanah leluhur yang pernah dihuni atau disinggahi sebagai tempat kelahiran hingga menjemput kedewasaan. Seperti kebanyakan orang di Indonesia, musim lebaran merupakan tradisi atau ritual tahunan bagi masyarakat terkhusus mayoritas Islam dalam merayakan euforia lebaran hari raya idul fitri, ini merupakan momentum yang terjadi satu kali setahun, dan tentunya hal ini tidak mengharap ketikan euforia itu selalu dinantikan oleh banyak orang.
Mudik dalam bahasa keseharian adalah berlayar ke hulu atau pulang menuju kampung halaman. Mudik selalu identik dengan tamasya dan wahana silaturahmi dengan kerabat keluarga di kampung halaman. Layaknya kehidupan, ritus mudik selalu saja menjadi perbincangan panas di media sosial maupun dikalangan masyarakat ketika menjelang perayaan lebaran tiba. Dalam waktu yang hampir bersamaan puluhan juta orang melakukan perjalanan secara bersamaan, membuat wajah perkotaan pada hari setelah itu, tak lagi memperlihatkan mimik pongah yang mempertontonkan kekerasan. Jalanan yang biasanya menjadi pusat permasalahan, pasca-mudik menjadi sepi dari deru percakapan dan bising kendaraan.
Lain halnya dengan kehidupan di desa, banyak hal unik yang ditemui oleh masyarakat khususnya yang bertempat tinggal di pedesaan. Mulai dari hal yang tak pernah ditemui sebelumnya sampai pada hal yang sudah dianggap tidak relevan lagi dalam kehidupan, tentunya akan hadir mengisi selah-selah perayaan euforia mudik yang sedang berlangsung. Pertukaran kebudayaan, karakter sampai pada perputaran uang yang begitu cepat dan nilainya besar akan nyata diperlihatkan. Puluhan triliun rupiah berpindah tangan dari kota ke kota, dari kota ke desa-desa sampai perkampungan terpencil. Tentu secara agregat, nilai uang di sini bukan hanya berbentuk cash, namun juga bisa berupa perkakas elektronik, pakaian, bahan makanan, minuman dan berbagai barang kebutuhan lainnya. Fenomena seperti ini disebut sebagai redistribusi ekonomi atau redistribusi kekayaan dalam pemahaman ekonomi, atau terjadinya perpindahan kekayaan dari satu daerah ke daerah lainnya atau dari satu individu ke individu lain.
Bukankah tradisi mudik diterjemahkan sebagai media untuk menjaga tali persaudaraan dan mempererat hubungan antara masyarakat urban-rural, baik dalam format horizontal maupun vertical?
Dalam hubungan horizontal terjadi antara sesama teman, kerabat, ataupun sanak saudara. Hubungan format vertikal terjalin antara orangtua dan anak-anak, atau antara yang lebih tua dan yang muda. Dalam dimensi sosial, tradisi mudik berarti bisa menjadi budaya positif untuk menjaga keutuhan dan kelanggengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu ritus mudik pula dijadikan sebagai wahana mempertegas etos kerja dan menjernihkan kembali pemikiran-pemikiran yang kejam dari kota, sebab kehidupan di kota lebih kejam dari ibu tiri. Sebuah tradisi tahunan yang menguras banyak uang dalam perputaran sistem kapitalis dan menguras cukup banyak energi setiap individu. Namun hal tersebut bukan menjadi hambatan untuk sampai ke kampung halaman. Sebab kampung seperti punya suara yang terus memanggil manusia yang tumbuh besar di rahimnya untuk kembali pulang.
Ajang silaturrahmi kemanusiaan juga penting untuk menghilangkan noda dan dosa. Masyarakat perantau atau yang menempuh pendidikan maupun yang ke kota mencari kehidupan yang lebih layak akan kembali ke kampung halaman dan menjenguk kedua orang tua yang sudah lama ditinggal, sebab hal yang paling menyedihkan ialah melupakan kampung halaman sendiri. Seperti halnya cerita kampung tentang Maling Kundang yang dikutuk karena lupa kampung halamannya sendiri, lupa kampung halaman berarti lupa kedua orang tua yang senantiasa menanti dan menunggu anak kesayangannya untuk pulang dan berkumpul bersama.
Kampung halaman selalu memberi kenangan dan ikatan kehidupan yang sulit untuk di hapus dalam ingatan, karena disanalah seseorang mendapat genangan kenangan yang begitu berharga dan pendidikan yang tentunya berbeda dengan pendidikan di kota yang di didik oleh gedung gedung megah. Dari berbagai ingatan tersebut, tidaklah mengherankan ketika mudik selalu menjadi tradisi yang dirindukan setiap orang yang berada di perantauan yang panjang terlepas dari eforia yang membuat manusia lupa dan mendekatkan diri pada sifat keangkuhannya sebagai mahluk sosial.*
Penulis:
Muhardi (Direktur Eksekutif Bakornas LAPENMI PB HMI)
Editor:
(m/NI)