Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Proyeksi Indonesia Maju, Ditengah Ketidakpastian Ekonomi Global

Sabtu, 22 Maret 2025 | Maret 22, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-03-23T06:14:08Z

Oleh: Raihan Al Afif Sekretaris Direktur Bakornas LEMI PB HMI 2024-2026 (dok. istimewa)

Narasi Indonesia.com, Jakarta - Analis kebijakan madya Badan Kebijakan Fiskal , Rahadian Zulfadin membagi tantangan global yang tengah terjadi saat ini ke dalam tiga hal besar, pertama konflik geopolitik, kedua perubahan kepemimpinan politik di banyak negara, ketiga proyeksi ekonomi global dan negara besar di dunia yang masih lemah. Ditengah hiruk pikuk kondisi ekonomi Indonesia yang tengah mengalami gonjang ganjing, serta ketidakpastian pendapatan APBN, muncul pula kritikan mengenai kebijakan presiden Prabowo Subianto yang melakukan tindakan efisiensi anggaran yang berujung pada pembentukan Danantara. Kebijakan tersebut dinilai tidak sejalan dengan berbagai program pemerintah yang mengeluarkan cukup banyak anggaran negara seperti kegiatan retret kepala daerah di Magelang di tengah efisiensi ekonomi.


Pada tahun 2025, situasi ekonomi global diperkirakan masih akan menghadapi tantangan besar. Proyeksi IMF, pertumbuhan ekonomi global akan mencapai 3,2% pada tahun 2025, hal ini disebabkan oleh akan peringatan meningkatnya resiko perang dan proteksionisme perdagangan. Fenomena tersebut muncul akibat konflik geopolitik di Ukraina serta Timur Tengah. Selain itu, penyebab lain yang muncul adalah terpilihnya Trump yang berimbas pada kebijakan perang tarif dengan China yang membuat ketidakpastian ekonomi global hari ini.


Ditengah kondisi tersebut, Indonesia terkena imbas akibat konflik geopolitik dari beberapa negara tersebut. APBN Indonesia mengalami defisit akibat harga barang luar yang meningkat yang tidak dibarengi dengan pendapatan masyarakat Indonesia pasca pandemi Covid-19. 


Instabilitas Politik, Ancaman Serius Bagi Pertumbuhan Ekonomi!

Konflik politik serta kepentingan kelompok menjadi ancaman serius bagi perekonomian Indonesia. Perubahan pemerintahan yang tiba-tiba serta ketidakpastian kebijakan mengakibatkan ketidakpercayaan pelaku pasar dan Investor. Akibatnya hal ini menimbulkan Investasi menurun, serta pertumbuhan ekonomi yang lambat. Selain itu, banyaknya kasus korupsi di Indonesia mengakibatkan distrust pihak Investor kepada Indonesia. 


Proses pergantian kekuasaan mengakibatkan banyaknya perubahan pada sektor kebijakan yang dibuat, hal ini tercermin dari ketidakpastian pembangunan Ibu Kota Negara. Para politikus sangat paham akan keterkaitan ekonomi dan politik akan mendatangkan manfaat politik bagi mereka. Hal ini sejalan apa yang dikemukakan oleh Miriam Budiarjo bahwa ekonomi selalu berorientasi kuat terhadap kebijakan yang rasional, khususnya penentuan hubungan antara tujuan yang telah ditentukan dan cara mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dalam bidang ekonomi pemerintah sekarang perlu membuat kebijakan yang lebih membuat investor merasa aman sehingga iklim investasi dapat terus bergulir.


Visi Indonesia Maju, dan Ancaman Resesi Ekonomi 

IMF telah memberikan peringatan bahwa akan terjadi resesi ekonomi di banyak negara, hal ini ditandai dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) negatif, pengangguran meningkat. Indonesia adalah negara yang termasuk akan mengalami resesi ekonomi. Hal ini jelas terlihat dari kondisi ekonomi Indonesia yang lesu, munculnya permasalahan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang makin marak, dan daya beli masyarakat yang rendah. Tantangan terbesar dalam mewujudkan visi Indonesia maju sangatlah beragam, mulai dari persoalan pengangguran yang semakin banyak, pendidikan yang semakin mahal, biaya kesehatan yang mahal serta maraknya perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Tantangan tersebut jelas menjadi ancaman dalam mewujudkan Indonesia Emas. Kita perlu melihat kebijakan starategis seperti apa yang akan diambil oleh presiden Prabowo dalam menyelesaikan ancaman resesi tersebut. 


Kondisi ekonomi yang tidak pasti hari ini memicu ancaman krisis ekonomi di tengah masyarakat kelas bawah yang tidak diiringi dengan pendapatan masyarakat yang memadai. Untuk memangkas hal tersebut, pemerintah harus segera mendorong pertumbuhan PDB riil serta didukung oleh peningkatan konsumsi masyarakat, dan pertumbuhan investasi yang mengimbangi hambatan ekspor neto akibat tekanan eksternal, termasuk melemahnya harga komoditas dan pertumbuhan mitra dagang.*


Penulis: 

Raihan Al Afif (Sekretaris Direktur Bakornas LEMI PB HMI 2024-2026)


Editor:

(m/NI)

×
Berita Terbaru Update